Rabu, 21 November 2012

Mengatasi Anak yang Suka 'Ngambek'

0 komentar
Kesalahan terbesar kita adalah menganggap bahwa sikap kasar hanyalah fase yang akan berlalu dengan sendirinya
kata Michelle Borba, PhD, penasihat Parents sekaligus penulis Don’t Give Me That Attitude: 24 Rude, Selfish, Insensitive Things Kids Do and How to Stop Them. Strategi berdasarkan usia yang kami berikan akan membantu Anda tenang menghadapi sikap bandel ini dan membantu anak untuk mulai bersikap hormat.

1. BATITA YANG MEMBANTAH
Bayi Anda yang dulu lembut telah menjadi batita yang senang membantah, merespons permintaan Anda untuk membereskan mainan dengan berkacak pinggang dan mengangkat kepala, “Mama nggak bisa nyuruh-nyuruh aku!”

Cara mengatasi: Hitunglah sampai tiga. Langsung memarahi mungkin bisa membantu Anda menyalurkan amarah, tapi Anda tidak punya harga diri jika mengumpat anak kecil. Alih-alih demikian, ingatlah bahwa ini adalah saat yang tepat untuk mendidiknya. Katakan seperti, “Mama ngerti, sebetulnya kamu mau bilang, “Ya, Ma. Mainan itu akan kupungut.” Lalu, bantu dengan memberi arahan spesifik yang jelas, yang bisa dia ikuti. Ingat, dia baru berusia 2 tahun, Anda perlu membantunya fokus terhadap hal yang Anda ingin dia lakukan.

Garis besar: Bayangkan batita Anda seorang ilmuwan. Dia mencoba menemukan reaksi yang akan didapatkan dengan bersikap kasar. Dia mungkin menduga, jika dia memungut mainannya begitu Anda minta, maka Anda akan kembali mengecek email atau mulai menyiapkan makan malam. Tapi, hanya dengan sedikit membantah, si anak akan langsung mendapat perhatian penuh dari Anda. Jadi, jangan pergi lalu sibuk dengan pekerjaan Anda ketika anak dengan senang hati terlibat. Fokuslah kepadanya. Dorongan yang positif akan perlahan-lahan mengajarkannya bahwa dia tidak perlu bersikap provokatif demi mendapatkan perhatian Anda. Saat dia bertingkah, jangan terpancing, tapi juga jangan mengacuhkan. “Tegur dia dengan tegas, simpel, dan tidak emosional,” kata Dr. Borba. Ciptakan pernyataan khusus, dan langsung gunakan setiap kali dia kelewatan. Misalnya, “Bicaramu kasar sekali. Ayo ulangi, coba sekali lagi.”

2. BALITA YANG SUKA NGAMBEK
Anak Anda, 4 tahun, pulang dari sekolah dengan membawa kelelahan dan suasana hati yang jelek. Dia menghempaskan tubuh ke sofa lalu merengek minta es krim. Anda bilang, “Tidak boleh, kecuali setelah makan malam.” Dia menatap Anda dengan tajam lalu menjerit, “Mama jelek! Aku sebel!”

Cara mengatasi: Bantahan anak mungkin merupakan ungkapan rasa frustrasi yang dia rasakan sebagai anak kecil di dunia yang besar, bukan kekasaran yang disengaja. “Kita bicara tentang masa-masa membangkang di usia 2 tahun, tapi ternyata usia 4 tahun juga penuh tantangan. Mereka mau mandiri tapi kerap merasa tidak berdaya,” kata Sara Grunstein, pekerja sosial klinis di Berkeley, California. “Lebih baik Anda tidak merespons dengan kemarahan saat dia mengejek Anda dengan sebutan “jelek.” Sebaiknya, ingatkan dia bahwa mengejek akan menyakiti perasaan orang. Kemudian, minta dia mengulangi keinginannya dengan ucapan yang lebih sopan.

Garis besar: Bersikap manis sepanjang hari di sekolah bukan pekerjaan mudah. Jadi, jangan heran kalau banyak anak menunggu hingga tiba di rumah untuk melampiaskan perasaannya. Memahami perasaannya adalah strategi yang bisa membantu Anda tetap tenang. Pertama, pastikan anak mengonsumsi camilan sehat dan tidak dalam keadaan lelah. Mungkin saja dia telah membutuhkan banyak energi untuk dapat bertahan duduk sepanjang hari. Jika memang demikian, bersepedalah bersama atau pasang musik dan menari di ruang tamu. Kemudian, saat Anda berdua berdekapan di sofa, ingatkan dia bahwa ada aturan untuk tidak menggunakan kata-kata kasar di rumah. “Cara yang baik untuk mengkomunikasikan nuansa kesopanan versus kata-kata kasar kepada anak usia 4 tahun adalah dengan membacakan cerita atau mendongeng mengenai perilaku kasar anak lain,” kata Grunstein. “Tanpa sadar, anak Anda akan menyerap pelajaran.”

3. USIA 5 YANG GANAS
Anda menyuruh anak Anda yang berusia 5 tahun untuk mematikan TV, dan dia melempar remote ke lantai, berlari ke kamarnya, lalu membanting pintu.

Cara mengatasi: Boleh saja marah, tapi anak perlu belajar bahwa melempar barang dan membanting pintu adalah tindakan yang salah. Pada usia 5 tahun, anak-anak masih sulit mengatasi amarah, tapi mereka sudah cukup besar untuk belajar konsekuensi perbuatan. “Anak Anda butuh hukuman yang jelas dan konsisten saat bersikap seperti itu,” kata Hilary Flower, penulis Adventures in Gentle Discipline. “Jika dia tahu Anda yang pegang kuasa, maka perilaku buruk akan hilang dengan cepat.” Pada kasus ini, cabutlah hak istimewanya, misalnya untuk menonton acara TV favorit selama satu minggu, dan jelaskan mengapa Anda melakukannya. Jangan menyerah seberapapun anak merengek atau meminta maaf.

Garis besar: Orang dewasa pun harus berjuang untuk bisa marah tanpa bersikap kasar. “Anak-anak yang bereaksi secara fisik saat marah, biasanya melakukan itu karena tidak punya cara lain untuk meredam emosinya,” kata Henry A. Paul, MD, penulis When Kids Are Mad, Not Bad. Jadi, proyek jangka panjang adalah untuk memberi anak cara yang konstruktif dalam mengkomunikasikan perasaannya. Bantu dia mengungkapkan emosinya dengan kata-kata atau melalui gambar daripada ngambek.

6. USIA 6 YANG TIDAK SOPAN
Makan malam hampir siap dan Anda memanggil anak dari dapur. “Kamu siap membereskan meja?” Seperti biasa, anak Anda hanya menoleh sekilas dari Game Boy yang sedang dia mainkan. Setelah Anda memintanya berkali-kali, dia menjawab dengan nada mengejek. “Nggak tahu deh. Memang kenapa?”

Cara mengatasi: Anak-anak pada usia ini sebenarnya senang membantah. Ini cocok sekali dengan selera humor anak usia sekolah, keinginan untuk menguji kesabaran Anda, dan tugas untuk mengklaim wilayah independennya sendiri. “Kesalahan Anda adalah bertanya, bukan memberi instruksi langsung,” kata Karin L. Price, PhD, psikolog klinis di Texas Children’s Hospital’s Learning Support Center for Child Psychology. “Jika Anda meminta, berarti Anda mengundang dia untuk menolak.”

Garis besar: Kawan berpengaruh besar pada anak usia 6 tahun. Anak Anda hampir tidak bisa menahan diri untuk memberi bantahan yang menyakitkan saat ada di rumah. Hal ini sebenarnya menyebar seperti virus di sekitar taman bermain. Bahkan saat Anda bersikap super keras mengenai TV, film, dan video game, budaya populer yang paling digemari anak usia sekolah lengkap dengan canda yang jorok serta ejekan sebagai bagian dari perayaan kebandelan itu sendiri. Kini adalah waktunya membuat peraturan mengenai cara yang benar untuk berbicara di hadapan orang dewasa versus cara bicara dengan teman-teman. Karena perasaan diterima di dalam kelompok juga penting, tentu Anda tidak ingin mengambil kesenangan yang ada di tempat bermain, tapi beri ekspektasi yang jelas dan tegas. Bantahan yang kasar dilarang digunakan saat ada orang dewasa. Dan, jangan lupa untuk memuji saat dia bersikap sopan. “Lebih mudah bagi anak untuk tahu bagaimana Anda ingin dia bersikap saat dia mendapatkan feedback positif atas perilaku baiknya,” kata Dr. Price.

KUIS
SIKAP ANDA BURUK?
Mungkin anak Anda meniru perilaku buruk dari Anda. Untuk mengetahuinya, nilai diri Anda sendiri dengan menjawab tes perilaku ini, eksklusif dari Parents.
1. Anda sedang masak. Sementara suami yang sedang duduk di sofa sambil baca koran meminta Anda mengambilkan minum, apakah Anda akan:
A. Menjawab sinis, “Memangnya kakimu nggak bisa dipakai?”
B. Membawakan minum dan dengan marah menyorongkannya di depan koran.
C. Bicara baik-baik, “Maaf ya, aku lagi masak.”
2. Anda baru saja duduk untuk makan malam ketika batita Anda menjerit, “Mana garpuku?” Apakah Anda akan:
A. Menjawab dengan marah, “Mama tidak akan ambilkan sampai kamu minta tolong baik-baik.”
B. Menarik napas keras, tapi mengambilkan garpu untuknya.
C. Berkata dengan riang, “Oh, Mama lupa garpunya, ya? Mama akan ambilkan. Tapi kamu bilang dulu ‘tolong, Ma.’”
3. Di waktu tidur, malaikat mungil Anda minta kecupan ekstra sebanyak 522 kali. Apakah Anda akan:
A. Frustasi lalu bertanya, “Kenapa sih kamu selalu bandel kalau mau tidur?”
B. Berkata, “Oh, oke,” sambil diam-diam berharap pada saat itu Anda gunakan untuk mengecek e-mail.
C. Mengatakan, “Nggak ah. Tapi Mama akan cium kamu 5 kali! Mama harus melakukan sesuatu dan kamu harus tidur.”

NILAI: Semua A? Anda memberi contoh buruk. Hitung sampai 3 sebelum menjawab –tak peduli seberapa kesalnya Anda.
Semua B? Anda bisa memberi contoh perilaku pasif-agresif, dan percayalah, hal ini akan berbalik kepada Anda!
Semua C? Anda berada di jalur yang benar dan Anda bisa lega karena sikap anak tidak menurun dari Anda.


 Sumber: http://parentsindonesia.com/article.php?type=article&cat=kids&id=212

0 komentar:

Poskan Komentar